Selasa, 06 Desember 2016

AJARAN KONFUSIANISME (Tinjauan Sejarah dan Filsafat)

AJARAN KONFUSIANISME (Tinjauan Sejarah dan Filsafat) 

TINJAUAN SEJARAH AJARAN KONFUSIANISME
Konfusius adalah nama Latin dari K’ung Tzu atau Kong Hu Tzu atau biasa dibunyikan di Indonesia dengan agama Kong Hu Cu. Dia dilahirkan di negeri Lu, yang saat ini merupakan provinsi Shantung, pada tahun 551 SM dari sebuah keluarga yang sederhana, jujur, dan setia berbakti kepada Thian.[1] Kurang lebih setelah tiga tahun dari kematian Ibunya pada tahun 528 SM, dia mengasingkan diri untuk belajar dan melakukan meditasi secara otodidak. Pada usia 50 tahun, dia memasuki kehidupan masyarakat umum sebagai seorang Guru, kemudian ditunjuk menjadi Kepala Hakim di kota Chung-Tu, dan segera pula diangkat menjadi Menteri Pekerjaan dan Pengadilan. Keadilan yang diterapkan oleh Konfusius secara tegas sehingga membuat negara menjadi tenteram menyebabkan musuh-musuhnya semakin gencar untuh menjatuhkan dia dari jabatannya, pada tahun 497 SM Konfusius terpaksa meninggalkan negerinya dan pergi mengembara. Selama 14 tahun dia pergi dari satu tempat ke tempat lainnya bersama para murid-muridnya yang setia. Hingga akhirnya dia diidzinkan kembali ke negaranya pada usia 68 tahun. Dia menghabiskan sisa umurnya untuk mengajarkan pahamnya dan meneliti warisan-warisan lama. Sebelum dia meninggal, dia menghasilkan sebuah karya yang disebut Ch’un-ts’in, Sejarah Musim Semi dan Musim Gugur, dan akhirnya Konfusius menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 470 SM.
 Gambaran mengenai kehidupan dan kepribadian seorang Konfusius terdapat dalam laporan-laporan para muridnya yang dihimpun dalam Lun Yu (Analekta Kehidupan Konfusius), yang antara lain menyebutkan bahwa Konfusius adalah orang yang mudah bergaul dan selalu tampak gembira, halus dan teliti, hormat, menghargai orang lain dan lain sebagainya.[2]
Dalam ajarannya Konfusius tidak pernah berbicara tentang hal-hal yang metafisis dan abstrak, keajaiban, kekuatan, atau masalah ketuhanan. Tetapi tidak ada keraguan-keraguan bahwa Konfusius percaya kepada Tuhan dan bahwa dia adalah seorang monoteis yang etis. Dia sendiri percaya bahwa kehendak Tuhan telah dibukakan untuknya dan karena itu misinya adalah membuat kehendak tersebut berlaku di duinia ini.
Konfusius juga percaya bahwa dunia ini dibangun atas dasar-dasar moral. Jika masyarakat secara moral rusak, maka tatanan alam tersebut juga akan terganggu sehingga terjadilah perang, banjir, gempa dan sebagainya. Dia juga percaya bahwa seseorang itu asalnya adalah baik dan akan kembali ke sifat yang baik. Menurutnya orang juga tidak memerlukan juru selamat, tetapi yang dibutuhkan oleh umat manusia adalah guru yang berbudi, dan melakukan dengan sungguh-sungguh ajarannya, serta menjadi contoh teladan bagi orang-orang lain, seperti yang telah diceritakan dalam Analekta 2:13 bahwa ‘Petama-tama dia memperaktekkan apa yang dia ajarkan, dan kemudian mengajarkan apa yang dia peraktekkan’. Konfusius sendiri menyatakan bahawa dirinya adalah seorang guru seperti tersebut yang diangkat oleh Tuhan.
Ajarannya mengenai hal kesusialaan, Konfusius menekankan perasaan berkawan atau timbal-balik, penanaman rasa simpati dan kerja  sama, yang harus dimulai dari lingkungan keluarga dan selanjutnya meluas setingkat demi setingkat meluas kedalam bidang persekutuan yang lebih luas. Dia menekankan pentingnya lima hubungan manusia yang pokok yang sudah menjadi tradisi masyarakat Cina pada waktu itu, yaitu :
1.    Hubungan antara penguasa dan warga negara
2.    Hubungan ayah dan anak lelaki
3.    Hubungan kakak laki-laki dan adik laki-laki
4.    Hubungan suami dan istri
5.    Hubungan teman dengan teman
Konfusius melihat timbulnya kekacauan di Cina karena pangeran tidak bertindak sebagai pangeran, warga negara tidak bertindak sebagai warga negara, ayah tidak bertindak sebagai ayah, dan seterusnya. Menurutnya langkah pertama ke arah transformasi dari dunia yang tidak teratur adalah melakukan upaya agar setiap orang sadar akan tempatnya masing-masing, ‘Mungkin perkataan atau perasaan timbal balik dapat berlaku. Jangan berbuat terhadap orang lain, jika kamu tidak ingin orang berbuat terhadap kamu’(Analekta 15:24).
Selain itu, Konfusius menyatakan bahwa kabijakan yang harus ditanamkan diatas semuanya adalah sifat Jen yaitu sifat membersihkan hati manusia. Aspek tersebut bertujuan untuk mempertahankan cita-cita Konfusius yang menyangkut penanaman hubungan manusia, perkembangan kemampuan manusia, menghaluskan kepribadian sendiri, dan menjunjung tinggi hak-hak manusia. ‘Tujuan Konfusius sendiri dalam menanamkan sifat Jen dalam diri manusia adalah agar mampu mempraktekkan lima kebijaksanaan di dunia menurut pandangan Jen, lima kebijaksanaan tersebut adalah menghormat, keluhuran budi, ketulusan hati, ketekunan dan keramahtamahan’ (Analekta 17:16). Dia juga mengatakan bahwa Jen  tercapai karena juga mencintai orang lain.
Dalam ajaran Konfusius juga terapat tentang kenegaraan, yaitu memajukan kesejahteraan rakyat sesuai denngan aturan-aturan Tuhan. Salah satu pandangannya adalah ‘Bimbinglah rakyat dengan aturan-aturan pemerintah dan periksalah dan aturlah mereka dengan ancaman hukuman, dan rakyat akan berusaha untuk tinggal di luar penjara, tetapi tidak mempunyai perasaan, hormat atau malu. Bimbinglah rakyat dengan kebijaksanaan atau periksalah atau aturlah mereka dengan aturan-aturan tentang kesopanan, dan rakyat akan mempunyai perasaan hormat dan menghormati’. (Analekta 2:3).[3]

BAB II
TINJAUAN FILSAFAT AJARAN KONFUSIANISME
Aliran-aliran filsafat Konfusianisme muncul sejak zaman kuno (600-200 SM), tepatnya bermula setelah Konfusius meninggal dunia, para murid-murid Konfusius kemudian menempuh jalan sendiri-sendiri dalam menyebar luaskan ajaran Konfusius. Namun karena mereka memberikan tekanan yang berbeda-beda pada ajaran guru mereka, maka lambat laun muncul perbedaan-perbedaan yang semakin lama semakin membesar karena masing-masing mengembangkan menggunakan sistem pemikiran sendiri sesuai kepentingan dan keyakinannya, akibat dari hal tersebut muncullah berbagai macam aliran konfusianisme, diantaranya :
A.    Konfusinisme
Yaitu suatu aliran yang terdiri dari orang-orang terpelajar yang mempunyai keahlian di bidang kitab-kitab klasik. Kitab –kitab klasik yang terpenting ada lima Wu Ching Chiang meliputi, jitab sejarah (Shu Ching), kitab syair (Shih Ching), kitab perubahan (Ching), kitab adat (Li Chi), sejarah musim semi dan musim gugur (Ch’un-ts’in). Selain itu pada zaman ini terdapat aliran yang ajarannya berlawanan arah, yaitu :
1.        Ajaran-ajaran Mencius
Mencius atau Men Ko, adalah bentuk Latin dari nama Cina Meng Tsu, Tuan Meng. Dia memberikan sumabangan yang sangat berarti terhadap ajaran Konfusius, yaitu terletak dalam penekanannya pada pembawaan baik dalam sifat manusia. Menurut pendapatnya, orang memiliki pembawaan yang baik sejak diahirkan, yaitu :
a.       Jen, artinya perikemanusiaan, murah hati, kecintaan. Dalam hubungan antarmanusia, Jen diwujudkan dalam Chung dan Shu.
b.      Yi, yaitu berbudi, keadilan atau kebenaran. Yi berarti keadaan “yang seharusnya” terjadi, kurang lebih sama dengan imperatif kategoris. Setiap orang memperlakukan sesama dengan kesusilaan dan bukan karena pertimbangan lain.
c.       Li, yaitu tindakan yang pantas, sopan santun, sesuai dengan keadaan. Tindakan lahir harus dilakukan dalam harmoni dan keseimbangan. Seorang yang luhur, mengetahui bahasa yang patut dipakai dan tingkah lakunya sesuai dengan maknanya. Konfusius berusaha menyelaraskan kelakuan lahir dengan keluhuran batin.
d.      Zhi, yaitu kebijaksanaan. Pengetahuan diperoleh dengan mempelajari fakta-fakta dan peristiwa fenomenal, tetapi kebijaksanaan itu berkembang dari pengalaman batin. Yang paling bermutu dalam hidup adalah kebijaksanaan.
e.       Xin, yang berarti “percaya terhadap orang lain”. Dalam pergaulan sehari-hari, Konfusius terlebih dahulu mendengarkan apa yang dilakukan orang dan mempercayai perbuatannya, barulah sesudah itu ia mendengarkan sendiri perkataan orang itu dan mengamati kelakuannya. Manusia bersandar pada kata-katanya, berarti bahwa jika manusia konsisten dengan kata-katanya maka dia layak dipercaya.[4]
Problem yang mendapatkan perhatian khusus dari Mencius adalah tentang pemerintah yang baik. Sebagai mana yang diajarkan Konfusius bahwa pemerintah yang baik tidak bergantung pada kekuatan yang tanpa perikemanusiaan, tetapi pada contoh yang baik yang dilakukan oleh sang penguasa. ‘semua orang mempunyai hati yang tidak tahan bila melihat penderitaan orang lain. Raja-raja kuno mempunyai hati yang haru ini, dan karenanya mereka juga mempunyai pemerintahan yang bersifat haru. Selanjutnya penguasa dunia itu sudah seperti memutar-mutarkan barang ditelapak tangan saja’. Dari konsep tentang ‘pemerintahan yang baik ini’ muncul pengakuan Mencius tentang pentingnya peranan rakyat dalam pemerintahan. Rakyat bukan saja akar dan dasar bagi pemerintahan tetapi juga merupakan pengadilan terakhir bagi pemerintah yang tujuan utamanya adalah untuk mendidik, memperkaya rakyat, dan memperbaiki kesejahteraan mereka secara menyeluruh.
2.        Ajaran-ajaran Hsun Tzu
Hsun Tzu adalah seorang yang tidak percaya terhadap Tien (Tuhan) sebagai pribadi Tuhan. Menurutnya Tien hanyalah tidak lebih dari pada hukum alam yang tidak berubah-ubah, dan semua perubahan alam semesta, seperti gerakan bintang-bintang dan yang lainnya merupakan pekerjaan dari hukum yang besar. Hsun Tzu juga berpendapat bahwa yang bertangguang jawab atas kehidupan diri manusia adalah manusia itu sendiri, termasuk juga kemakmuran atau bencana alam yang menimpanya. Seperti yang dia katakan “Apabila sandang dan pangan disimpan dengan cukup dan digunakan secara ekonomis, Tuhan tidak akan dapat memiskinkan negara”. Dia juga menolak akan takhayul, seperti ramalan mengenai nasibdan ilmu firasat.
Ide lainnya dari Hsun Tzu adalah bahwa sifat dasar manusia itu jahat, dan bahwa kebaikan orang itu diperoleh dari lingkungannya. Dalam hubungan ini dia membuat serangan langsung terhadap ajran-ajaran Mencius.
B.     Taoisme: Tao te Chia
Yaitu suatu aliran yang terdiri dari orang-orang terpelajar dan mengalami kekecewaan karena keadaan negara pada waktu itu mengalami kemunduran, kemudian mereka menyadari dan hidup sebagai biarawan. Tokoh yang terbesar dalam aliran ini adalah Chuang Tzu.
Pokok-pokok ajaran dari Tao te Chia terutama mengenai metafisika dan filsafat sosial. Bukuyang dipakai sebagai pegangan adalah Tao te Ching. Tao artinya jalan, te artinya kebajikan dan Ching artinya kitab, Jadi Tao te Ching diartikan sebagai kitab tentang atau petunjuk bagi manusia untuk sampai pada kebajikan.
C.    Aliran Yin Yang: Yin Yang Chia
Yaitu suatu aliran yang dipelopori oleh orang-orang yang pada mulanya mempunyai kedudukan penting dalam istana. Mereka itu ahli nujum dan ilmu perbintangan, kemudian mereka menawarkan keahliannya kepada masyarakat. Aliran ini pengaruhnya sangat besar di kemudian hari, bahkan secara tidak langsung dapat dirasakan dewasa ini.
Menurut pandangan orang cina Yin dan Yang merupakan dua prinsip pokok di alam semesta.Yin adalah prinsip jantan seperti; bumi, bulan, air, hitam, kepasifan dan lain sebagainya. Sedangkan Yang adalah jika digabungkan akan memberikan pengaruh yang timbal balik dan akan terjadilah semua peristiwa-peristiwa yang terdapat di alam semesta.
Yin dan Yang merupakan dua prinsip yang berlainan bukan berlawanan secara kontradiktur, namun keduanya merupakan dua hal yang saling mengisi dan melengkapi.
D.    Mohisme atau Mo Chia
Yaitu suatu aliran yang terdiri dari kelompok kaum ksatria yang telah kehilangan kedudukannya. Mereka menawarkan keahliannya di bidang peperangan kepada penguasa baru. Tokoh dari Mo Chia adalah Mo Tzu (479-381 SM).
Mohisme mempunyai disiplin yang ketat, hal itu karena adanya pengaruh dari tokohnya Mo Tzu yang menuntut kepada murid-muridnya agar taat kepada gurunya. Sikap Mo Tzu ini sedikit banyak dipengaruhi oleh keluarganya yang berlatar belakang militer. Aliran mohisme ini di kemudian hari dikenal sebagai aliran yang utilitaristis.
E.     Dialektisime atau  Ming Chia
Aliran Dialektisi dikenal juga dengan sebutan aliran nama-nama (Scholl of Names). Aliran ini dipelopori oleh orang-orang yang ahli dalam bidang debat dan pidato. Mereka menyalurkan kepandaiannya kepada rakyat.
Mazhab ini tertarik dengan adanya perbedaan antara apa yang mereka sebut dengan ‘nama-nama’ (names) dengan ‘fakta yang nyata’ (actualities).
F.     Legalisme: Fa Chin
Yaitu suatu aliran yang dipelopori oleh orang-orang yang ahli didalam bidang pemerintahan, mereka menawarkan kepandaiannya kepada para penguasa di berbagai daerah. Mereka menjadi penasihat-penasihat pemerintah dan mengajarkan teknik-teknik pemerintahan serta hukum-hukum.[5]
Selanjutnya pada periode Chi (221-207 SM), munncul reaksi yang kuat terhadap kebebasan berpikir yang timbul pada tahun-tahun sebelumnya. Adalah kaisar Shih Huang Ti yang sangat berperan dalam reaksi ini, dia mengontrol dan mengawasi pikiran rakyatnya dengan keras, membakar seluruh tulisan pemikiran yang ada kecuali tulisan yang menyangkut obat-obatan, ketuhanan dan pertanian. Akibatnya sejumlah besar buku-buku yang nenuat ajarab Konfusius dibakar dan tidak kurang dari 460 sarjana dibunuh. Namun akhirnya reaksi tersebut berakhir setelah periode selanjutnya yaitu pada masa dinasti Han (206 SM-220M), kebasan berpikir muncul kembali dan Universitas Cina pertama didirikan dengan maksud meneruskan cara-cara suci para penguasa kuno dan mencapai kemajuan moral dan intelektual kekaisaran. Ajaran asli Konfusianisme dihidupkan kembali bukan hanya sebagai pemikiran filsafat, tetapi sebagai agam yang penuh dengan aspek-aspek sepiritual, moral dan kultural. Tokoh utama dalam gerakan ini adalah Tung Chuang Shu yang berpendapat bahwa keunggulan manusia dibandingkan makhluq-makhluq lainnya adalah terletak dalam kapasitasnya untuk menerima wahyu dari Tuhan dan membentuk tindakan-tindakan dan sifat-sifatnya sesuai dengan wahyu tersebut.
Di masa permulaan dinasti Han ini Konfusianisme dipastikan mencapai kejayaannya, namun kamudian terdapat pertentangan yang tajam di kalangan para pemikir ajaran Konfusius tentang penafsiran dari buku-buku klasik dan status Konfusius sendiri. Di satu pihak muncul golongan yang meningkatkan Konfusius sampai pada setatus Tuhan Penyelamat, sementara dilain pihak ada golongan yang tetap memperthankan paham lama bahwa Konfusius hanyalah seorang nabi atau guru. Selama periode ini golongan yang meningkatkan Konfusius sampai kepada Tuhan Penyelamat  berpengaruh besar, sehingga pada permulaan tahun 59 M ditetapkan cara-cara untuk memuja Konfusius, termasuk memberikan korban kepadanya di semua lembaga pendidikan yang dikelola oleh pemerintah, dengan demikian Konfusius meningkat menjadi semacam ‘Dewa Pendidikan’ pada saat itu.
Keruntuhan dinasti Han diikuti denagan suatu periode kekacauan moral yang berkepanjangan di Cina, Ajaran Konfusius sendiri kehilangan tempat dikalangan intelek yang beralih kepada ajaran Tao dan Budhisme, tetapi proses pendewaan Konfusius masih berlanjut. Hingga pada abad pertengahan muncullah aliran Li Hsuch Chia atau Neo Konfusianisme, sekalipun para pengikut aliran ini adalah intelek dan murid-murid sepiritual Konfusius tetapi pengikutnya tidak berusaha memperthankan atau membangkitkan kembali ajaran yang murni dari Konfusius tetapi hanya melakuan revisi terhada sistem etika, moral dan kepercayaan lama berdasarkan perkembangan-perkembangan baru, hal itu terjadi karena pola pikir mereka pada umumnya ditentukan oleh spekulasi para pengajar aliran Chan dan  Zen.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar